Kisah Cinta Sang Gadis Bisu
Oleh :
Irfan ar-Rozi
Di sebuah Ma’had Salafi
Putri yang bernama Syirodjud Tholibin, yang ada di salah satu kota,
hidup seorang gadis rermaja yang akrab di panggil Laila, sang gadis yang punya
bakat menulis itu punya cita-cita yang sangat tinggi. Laila berharap suatu saat
nanti dia bisa berbagi ilmu lewat karya tulisnya. Laila memang bisa dikatakan
salah satu tholibah yang sangat
cerdas dari para tholibah yang ada di Ma’had itu. Begitu juga
dengan bentuk fisiknya, Laila mempunyai postur tubuh yang tinggi, matanya yang
indah, dan Laila juga mempunyai sifat yang sempurna untuk dikatakan sebagai
seorang gadis remaja yang sholehah.
Di lingkungan Ma’had, Laila
dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam, tapi walaupun ia seorang
yang pendiam, Laila memiliki banyak shohibah. Bahkan dilingkungan Ma’had
itu tidak ada seorangpun yang tidak mengenal sosok kepribadian Laila
yang lembut.
Laila memiliki 2 shohibah yang
selalu setia menemaninya kemanapun ia pergi dan mereka selalu bersama-sama. Dia
adalah ukhti Neyla dan ukhti Aisyah. Mereka adalah kedua shohibah
yang mengagumi sosok kepribadian Laila. Ukhti Neyla sudah mengenal Laila
di Ma’had itu lebih dari 5 tahun, sementara ukhti Aisyah adalah salah
satu tholibah baru yang sangat mengagumi sosok kepribadian Laila sejak awal mereka kenal, ukhti Aisyah
merasa simpati kapada Laila. Mereka berdua banyak belajar dari Laila, diantara
beberapa hal yang sangat dikagumi mereka, Laila tidak pernah marah kepada orang
lain ketika Ia disakiti hatinya. Dan Laila tidak pernah putus asa untuk
mewujudkan cita-citanya yang tinggi dan mulia itu, walaupun banyak kendala yang
harus Ia tempuh, tapi Laila menjadi besar hati ketika para Ustad dan
Ustadah di Ma’had itu mendukung
harapan Laila itu.
Laila sangat bersyukur dengan
keadaan yang ada pada dirinya saat ini. Semasa kanak-kanaknya Laila mempunyai
banyak sekali pengalaman-pengalaman yang sangat pahit dan menyakitkan hatinya.
Kebaikan-kebaikan yang Laila miliki saat inipun banyak ia pelajari dari
pengalaman hidupnya. Dulu Laila sangat benci dengan sekolahan umum,
karena dengan keadaan yang tidak sempurna pada dirinya, si gadis lugu itu
menjadi bahan gunjingan dari teman-teman sekolahnya, dan Laila menjadi
tidak nyaman dalam belajar karena terus-menerus dihina dan dicaci-maki oleh
teman-temannya, semenjak kejadian itu Ia memutuskan untuk tidak mau bersekolah
lagi, padahal di kelasnya Laila tergolong siswi yang cerdas. Pak Ilyas dan Bu
Sari sebagai orang tuanya Laila merasa kasihan dengan nasib malang yang
diterima putrinya. Berkali-kali Pak Ilyas membujuk Putrinya agar mau bersekolah
lagi. Tapi usaha mereka selalu sia-sia. Akhirnya Pak Ilyas mendapat
saran dari teman kerjanya agar Putrinya yang malang itu tinggal di Ma’had,
walaupun mereka sangat berat ditinggal Putrinya. Karena Laila merupakan Putri
tercinta satu-satunya, tapi sang bunda tidak egois. Beliau lebih mengutamakan
masa depan Putrinya. Dan Sang Bunda juga selalu berdo’a agar kelak Laila bisa
menjadi anak yang sholehah dan dapat berguna bagi Nusa, Bangsa, dan
Agama.
3 tahun waktu Laila berfikir akan
ajakan orang tuanya untuk tinggal di Ma’had Waktu yang sangat lama itu,
benar-benar Ia manfaatkan untuk mempertimbangkan ajakan orang tuanya karena Ia
tidak mau hal-hal pahit yang pernah dialaminya itu akan terulang lagi. Dan
akhirnya pintu hatinyapun terbuka dan Laila memutuskan akan mau tingal di Ma’had
dengan syarat ketika dia tiggal disana nanti, Aby dan Umminya
harus selalu menjengunya disana. Denga berbagai pertimbangan, akhirnya kedua
orang tuanyapun menyetujui permintaaan Si Gadis malang itu.
Tahun berganti tahun dan waktu
terus berlalu rupanya Laila merasa nyaman tinggal di Ma’had dan Laila
juga memiliki banyak shohibah yang mau menerimanya dengan keadaan
seperti itu, dan Laila juga mulai akrab dengan lingkungan Ma’had yang ia
tempati. Walaupun awalnya Laila sering menangis karena rindu dengan abi
dan uminya dirumah.
Pada suatu hari Laila bersama
kedua temanya yaitu ukhti Neyla dan ukhti Aisyah sedang serius baca
buku di perpustakaan, tiba tiba datang ukhti Fatimah yang sedang piket
pada hari itu lalu mendekati ukhti Neyla,
“Maaf ukhti, ,,,,,, ada keluarga
panjenengan yang menyambang
dan beliau sekarang menunggu panjenengan
ruang tamu .!” Kata ukhti Fatimah
denan membisik.
“Ooh ya,,,,,! Tolong bilang
kepada beliau untuk menunggu sebentar”Jawab ukhti Neyla.
Setelah
ukhti Fatimah pergi Neyla menceritakannya kepada ukhti Laila dan ukhti
Aisyah dan meminta mereka untuk ikut menemui keluarganya yang menyambangnya awalnya mereka sempat menolak tapi
karena ukhti Neyla terus memaksa
mereka untuk ikut menemui keluarganya akhirnya merekapun mau menemaninya.
Ketika mereka berjalan menuju ruang tamu Laila melihat sosok seorang pria yang
berbadan besar dan tinggi berdiri didepan pintu, tiba-tiba Laila beralasan
perutnya sakit,dengan isyarat gerakan tanganya Laila memohon kepada ukhti Neyla untuk kemar mandi
sebentar,
“Sebentar saja ukhti,,,, Saya
hanya ingin memperkernalkan ukhti kepada keluarga saya, saya mohon
......!!”.kata Neyla dengan sangat berharap.
Karena
permohonan shohibah yang selau setia kepadanya akhirnya Laila pun
mengikuti kata-kata Neyla.
Rasa bahagia yang ada dalam
hati Neyla saat akan bertemu dengan kedua orang tuanya di desa.yang hampir
lewat 2 kali lebaran tidak bertemu, dan Neyla juga sangat bahagia ketika dapat mengenalkan
kedua oran tuanya kepada kedua sahabat karibnya.
Sampai diruang tamu Neyla terkejut.
Ia melihat sosok seorang laki-laki muda yang tampan, ternyata yang menyambangnya
itu bukan kedua orang tuanya melainkan pemuda itu adalah Rifa’i, kekasihnya
pada waktu di desa yang dulu ceritanya mereka akan melangsungkan pernikahan, tapi
karena usia Neyla yang masih terlalu dini membuat mereka batal untuk menikah.
Walaupun
yang datang datang menyambangnya itu bukan kedua orang tuanya tetapi
Neyla juga tidak kecewa, justru Neyla sangat bahagia karena yang datang calon
suaminya,dan rupanya Rifa’i masih setia menunggunya selama bertahun tahun.
Tadinya
Neyla sempat meragukan kesetiaan Rifa’i kepadanya,ternyata ia salah
besar.
“Assalamu’alaikum,,,,,,,,,,,,,,,,”.sapa
Rifa’i sambil tersenyum.
”waalaikum salam ,,,,,,,,,,,,,,,,,”
jawab Neyla dengan senyuman bahagia.
“dik Neyla gimana kabarnya,,,,,,,,,,,??”.tanya
Rifa’i
“Alhamdulillah baik,ya seperti
yang akhy lihat saat ini,akhy sendiri gimana
kabarnya ,,,,,,?”.
Kata Neyla.
“Alhamdulillah kami sekeluarga
baik baik saja.!” Jawab Rifa’i meyakinkan.
Lalu
Neyla memperkenalkan ukhti Laila dan ukhti Aisyah kepada Rifa’i.
ketika Rifa’i mengajak berjabat tangan Laila hanya merundukkan kepalanya dan
memberi salam penghormatan dengan senyuman. Rifa’i tidak tahu kalau Laila
sebenarnya adalah gadis bisu,tapi Rifa’i sangat terpesona memandang wajah Laila
yang cantik dan anggun. lalu mereka saling ngobrol bersama,dalam
percakapan diantara mereka Laila hanya diam dan tersenyum mempesona,kemudian Rifa’i
penasaran dengan Neyla.
Setelah
beberapa lama kemudian rupanya kedatangan Rifa’i hanya membawakan buah buahan
segar dari desa untuk Neyla calon istrinya.walaupun mereka telah ngobrol-ngobrol
panjang ukhti Laila dan ukhti Aisyah tidak tahu kalau pemuda itu calon suaminya Neyla.
mereka berdua menganggap bahwa Rifa’i adalah sepupunya Neyla
Satu jam telah berlalu kemudian Rifa’i
izin untuk pulang ke desa. Rifa’i telah puas karena dapat mastikan keadaan
Neyla yang rupanya dia baik-baik saja. Tetapi dalam hati Rifa’i masih penasaran
dengan Laila yang tidak mau berbicara sama sekali kepadanya,
Sampai rumah Rifa’i masih tetap
terbayang dengan wajah Laila yang mempesona itu,bayangan itu terus
menyelimuti ketika ia hendak tidur dan itu terjadi setiap malam.karena Rifa’i
masih tetap penasaran dengan gadis itu ia memutuskan untuk datang kembali ke-Ma’had
Syirodjud Tholibin lagi,kali ini Rifa’imemastikan dia harus benar-benar tahu siapa sebenarnya
gadis itu.
Pagi-pagi sekali Rifa’i berangkat
dari desa sebelum dia sampai ketujuan dia mampir ke toko baju untuk
membelikan oleh-oleh kepada Neyla,ketika Rifa’i memilihkan baju Rifa’i
tidak begitu memperhatikan ukuranya, karena yang ada pada benak Rifa’i adalah
sosok Laila, rupanya baju yang dibelikan Rifa’i itu adalah ukuran baju Laila
Sampai di Ma’had
Syirodjud Tholibin Rifa’i bertemulangsung dengan kyai. Abdullah,sebaga
kyai yang mengasuh pondok tersebut dia tanya beberapa hal menyangkut
latar belakang sang gadis cantik itu, dan kyai Abdullahpun menjawabnya
dengan senang hati.dan rupanya kyai itu tahu kalau sebenarnya pemuda itu
menyukai Laila,rupanya benar Rifa’i langsung menyukai dengan kepribadian Laila
walaupun kyai itu tidak menceritakan bahwa sesungguhnya Laila itu adalah
seorang gadis yang bisu.
Kemudian Rifa’i
melanjutkan untuk menemui Neyla dan dia pun memastikan bahwa apa yang
dikatakan kyai Abdullah itu
benar, ternata setelah mendengar cerita dari Neyla ada satu hal yang tidak
diceritakan oleh kyai Abdullah kepadanya.dan kyai Abdullah senang
ada seorang pemuda yang menyukai Laila, tapi beliau tidak tahu bahwa
pemuda itu adalah calon suaminya Neyla, kyai Abdullah bermaksud hendak menjodohkan
pemuda itu kepada Laila karena dilihat dari cara berbicara dan tingkahlaku
pemuda itu yang sopan kepadanya, dan juga Laila yang sudah hidup bertahun-tahun
di lingkungan Ma’had beliau rasa sudah waktunya Laila untuk hidup berumah
tangga. Kemudian kyai Abdullah memanggil kedua orang tua Laila ke Ma’had,dan
menceritakan apa yang telah terjadi dengan putrinya,kedua orang tua Laila pun
setuju bila memang ada yang mau dengan Laila dan beliau pun memasrahkan kepada kyai
Abdullah
Dan kyai Abdullah kembali
menemui Rifa’i apakah ia benar-benar serius ingin melamar Laila dengan keadaan
yang ada pada Laila ,rupanya Rifa’i setuju tanpa berpikir panjang karena ia
sudah terlanjur suka dengan Laila. Kemudian kyai Abdullah menceritakanya kepada Laila,karena Laila
seorang gadis yang ta’at dan patuh kepada kyai Abdullah ia pun
tidak menolaknya.terdengar kabar bahwa Laila ingin menikah semua santri yang
ada di Ma’had itu ikut senang apalagi kedua sahabat setianya yaitu ukhti Neyla dan ukhti Aisyah.Ia
sangat penasaran siapa pemuda yang
beruntung mendapatkan Laila.
Setelah Laila tahu
bahwa pemuda yang ingin menikahinya adalah Rifa’i, Laila merasa bahagia karena
rupanya sejak awal mereka bertemu Laila juga mempunyai perasaan yang sama
seperti apa yang di rasakan oleh Rifa’i, kemudian Laila menceritakan kepada
Neyla dengan bahasanya yang khas bahwa pemuda yang ingin menikahiya itu adalah
Rifa’i, mendengar cerita dari Laila,Neyla sangat terkejut tapi melihat
ekspresi muka Laila yang begitu bahagia Neyla pun tidak bisa berkata
apa-apa,karena Laila merupakan salah satu santri yang punya kelebihan dan paling disegani oleh
semua santri-santri yang ada di Ma’had itu.sungguh mulia hati Neyla yang
merelakan calon suaminya untuk sahabat karibnya walaupun ia sendiri
masih bingung apa yang harus dikatakan kepada kedua orang tuanya di desa.
Hari pernikahan Laila berlangsung dengan penuh kebahagiaan
antara keluarga Laila dan keluarga Rifa’i, pesta pernikahan mereka dirayakan
dengan sangat mewah dirumah Laila dan semua santri yang ada di Ma’had Syirodjud
Tholibin diundang. kedua mempelai pun sangat bahagia dengan kedatangan
mereka dan mereka hidup bahagia selamanya.







Terimakasih ceritanya bagus :-)
BalasHapusSaya sangat menyukai ceritanya, terima kasih :)
BalasHapus