Powered By Blogger

Kamis, 14 Juni 2012

Kisah Cinta Sang Gadis Bisu

Kisah Cinta Sang Gadis Bisu
                                                    Oleh  : Irfan ar-Rozi


               Di sebuah Ma’had Salafi Putri yang bernama Syirodjud Tholibin, yang ada di salah satu kota, hidup seorang gadis rermaja yang akrab di panggil Laila, sang gadis yang punya bakat menulis itu punya cita-cita yang sangat tinggi. Laila berharap suatu saat nanti dia bisa berbagi ilmu lewat karya tulisnya. Laila memang bisa dikatakan salah satu tholibah  yang sangat cerdas dari para tholibah yang ada di Ma’had itu. Begitu juga dengan bentuk fisiknya, Laila mempunyai postur tubuh yang tinggi, matanya yang indah, dan Laila juga mempunyai sifat yang sempurna untuk dikatakan sebagai seorang gadis remaja yang sholehah.
               Di lingkungan Ma’had, Laila dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam, tapi walaupun ia seorang yang pendiam, Laila memiliki banyak shohibah. Bahkan dilingkungan Ma’had itu tidak ada seorangpun yang tidak mengenal sosok kepribadian Laila yang lembut.
               Laila memiliki 2 shohibah yang selalu setia menemaninya kemanapun ia pergi dan mereka selalu bersama-sama. Dia adalah ukhti Neyla dan ukhti Aisyah. Mereka adalah kedua shohibah yang mengagumi sosok kepribadian Laila. Ukhti Neyla sudah mengenal Laila di Ma’had itu lebih dari 5 tahun, sementara ukhti Aisyah adalah salah satu tholibah baru yang sangat mengagumi sosok kepribadian  Laila sejak awal mereka kenal, ukhti Aisyah merasa simpati kapada Laila. Mereka berdua banyak belajar dari Laila, diantara beberapa hal yang sangat dikagumi mereka, Laila tidak pernah marah kepada orang lain ketika Ia disakiti hatinya. Dan Laila tidak pernah putus asa untuk mewujudkan cita-citanya yang tinggi dan mulia itu, walaupun banyak kendala yang harus Ia tempuh, tapi Laila menjadi besar hati ketika para Ustad dan Ustadah  di Ma’had itu mendukung harapan Laila itu.
               Remaja yang lugu itu memang tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang ada pada dirinya, dan Laila juga sadar dengan kekurangan-kekurangan yang Ia miliki, karena Laila seorang remaja yang beriman, Laila sangat percaya dengan kekuasan Tuhan. Dia berpedoman pada salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang artinya “Dan sesungguhnya Allah SWT menciptakan mahkluk-Nya di bumi ini tidak ada yang sia-sia”. Dengan ayat yang demikian itu dia sangat yakin dan percaya bahwa suatu saat nanti Ia akan bisa sukses dan bisa mewujudkan impiannya yang besar itu, walaupun saat ini banyak sekali rintangan dan cobaan berat yang harus Ia hadapi.
               Laila sangat bersyukur dengan keadaan yang ada pada dirinya saat ini. Semasa kanak-kanaknya Laila mempunyai banyak sekali pengalaman-pengalaman yang sangat pahit dan menyakitkan hatinya. Kebaikan-kebaikan yang Laila miliki saat inipun banyak ia pelajari dari pengalaman hidupnya. Dulu Laila sangat benci dengan sekolahan umum, karena dengan keadaan yang tidak sempurna pada dirinya, si gadis lugu itu menjadi bahan gunjingan dari teman-teman sekolahnya, dan Laila menjadi tidak nyaman dalam belajar karena terus-menerus dihina dan dicaci-maki oleh teman-temannya, semenjak kejadian itu Ia memutuskan untuk tidak mau bersekolah lagi, padahal di kelasnya Laila tergolong siswi yang cerdas. Pak Ilyas dan Bu Sari sebagai orang tuanya Laila merasa kasihan dengan nasib malang yang diterima putrinya. Berkali-kali Pak Ilyas membujuk Putrinya agar mau bersekolah lagi. Tapi usaha mereka selalu sia-sia. Akhirnya Pak Ilyas mendapat saran dari teman kerjanya agar Putrinya yang malang itu tinggal di Ma’had, walaupun mereka sangat berat ditinggal Putrinya. Karena Laila merupakan Putri tercinta satu-satunya, tapi sang bunda tidak egois. Beliau lebih mengutamakan masa depan Putrinya. Dan Sang Bunda juga selalu berdo’a agar kelak Laila bisa menjadi anak yang sholehah dan dapat berguna bagi Nusa, Bangsa, dan Agama.
               3 tahun waktu Laila berfikir akan ajakan orang tuanya untuk tinggal di Ma’had Waktu yang sangat lama itu, benar-benar Ia manfaatkan untuk mempertimbangkan ajakan orang tuanya karena Ia tidak mau hal-hal pahit yang pernah dialaminya itu akan terulang lagi. Dan akhirnya pintu hatinyapun terbuka dan Laila memutuskan akan mau tingal di Ma’had dengan syarat ketika dia tiggal disana nanti, Aby dan Umminya harus selalu menjengunya disana. Denga berbagai pertimbangan, akhirnya kedua orang tuanyapun menyetujui permintaaan Si Gadis malang itu.
               Tahun berganti tahun dan waktu terus berlalu rupanya Laila merasa nyaman tinggal di Ma’had dan Laila juga memiliki banyak shohibah yang mau menerimanya dengan keadaan seperti itu, dan Laila juga mulai akrab dengan lingkungan Ma’had yang ia tempati. Walaupun awalnya Laila sering menangis karena rindu dengan abi dan uminya dirumah.
               Sepuluh tahun telah berlalu Laila hidup dilingkungan Ma’had dan banyak ilmu yang telah ia peroleh disana,banyak sekali cerita suka dan duka ia lewati bersama teman-teman seperjuanganya.dan kini Laila telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan mahir dalam bidang karya sastra dan tulis, melalui pesan-pesan tulisanya yang ia tulislah Laila dapat membagikan ilmunya kapada orang lain.banyak para santri yang terinspirasi oleh karya tulisnya yang ia sumbangkan kepada perpustakaan Ma’had, bahkan para ustadz dan ustadzahnya pun ikut membaca karya tulisnya. Setelah banyak belajar dari buku karangan Laila banyak yang simpati kepadanya dan menyegani sosok sang gadis bisu itu.
                  Pada suatu hari Laila bersama kedua temanya yaitu ukhti Neyla dan ukhti Aisyah sedang serius baca buku di perpustakaan, tiba tiba datang ukhti Fatimah yang sedang piket pada hari itu lalu mendekati ukhti Neyla,
              “Maaf ukhti, ,,,,,, ada keluarga panjenengan  yang menyambang dan beliau sekarang menunggu  panjenengan  ruang tamu .!” Kata ukhti Fatimah denan membisik.
               “Ooh ya,,,,,! Tolong bilang kepada beliau untuk menunggu sebentar”Jawab ukhti Neyla.
Setelah ukhti Fatimah pergi Neyla menceritakannya kepada ukhti Laila dan ukhti Aisyah dan meminta mereka untuk ikut menemui keluarganya yang menyambangnya   awalnya mereka sempat menolak tapi karena  ukhti Neyla terus memaksa mereka untuk ikut menemui keluarganya akhirnya merekapun mau menemaninya. Ketika mereka berjalan menuju ruang tamu Laila melihat sosok seorang pria yang berbadan besar dan tinggi berdiri didepan pintu, tiba-tiba Laila beralasan perutnya sakit,dengan isyarat gerakan tanganya Laila memohon kepada  ukhti Neyla untuk kemar mandi sebentar,
              “Sebentar saja ukhti,,,, Saya hanya ingin memperkernalkan ukhti kepada keluarga saya, saya mohon ......!!”.kata Neyla dengan sangat berharap.
Karena permohonan shohibah yang selau setia kepadanya akhirnya Laila pun mengikuti kata-kata Neyla.
                Rasa bahagia yang ada dalam hati Neyla saat akan bertemu dengan kedua orang tuanya di desa.yang hampir lewat 2 kali lebaran tidak bertemu, dan Neyla juga sangat bahagia ketika dapat mengenalkan kedua oran tuanya kepada kedua sahabat karibnya.
              Sampai diruang tamu Neyla terkejut. Ia melihat sosok seorang laki-laki muda yang tampan, ternyata yang menyambangnya itu bukan kedua orang tuanya melainkan pemuda itu adalah Rifa’i, kekasihnya pada waktu di desa yang dulu ceritanya mereka akan melangsungkan pernikahan, tapi karena usia Neyla yang masih terlalu dini membuat mereka batal untuk menikah.
Walaupun yang datang datang menyambangnya itu bukan kedua orang tuanya tetapi Neyla juga tidak kecewa, justru Neyla sangat bahagia karena yang datang calon suaminya,dan rupanya Rifa’i masih setia menunggunya selama bertahun tahun.
Tadinya Neyla sempat meragukan kesetiaan Rifa’i kepadanya,ternyata ia salah besar.
               “Assalamu’alaikum,,,,,,,,,,,,,,,,”.sapa Rifa’i sambil tersenyum.
               ”waalaikum salam ,,,,,,,,,,,,,,,,,” jawab Neyla dengan senyuman bahagia.
                “dik Neyla gimana kabarnya,,,,,,,,,,,??”.tanya Rifa’i
               “Alhamdulillah baik,ya seperti yang akhy  lihat saat ini,akhy sendiri gimana                       kabarnya ,,,,,,?”. Kata Neyla.
               “Alhamdulillah kami sekeluarga baik baik saja.!” Jawab Rifa’i meyakinkan.
Lalu Neyla memperkenalkan ukhti Laila dan ukhti Aisyah kepada Rifa’i. ketika Rifa’i mengajak berjabat tangan Laila hanya merundukkan kepalanya dan memberi salam penghormatan dengan senyuman. Rifa’i tidak tahu kalau Laila sebenarnya adalah gadis bisu,tapi Rifa’i sangat terpesona memandang wajah Laila yang cantik dan anggun. lalu mereka saling ngobrol bersama,dalam percakapan diantara mereka Laila hanya diam dan tersenyum mempesona,kemudian Rifa’i penasaran dengan Neyla.
Setelah beberapa lama kemudian rupanya kedatangan Rifa’i hanya membawakan buah buahan segar dari desa untuk Neyla calon istrinya.walaupun mereka telah ngobrol-ngobrol panjang ukhti Laila dan ukhti Aisyah  tidak tahu kalau pemuda itu calon suaminya Neyla. mereka berdua menganggap bahwa Rifa’i adalah sepupunya Neyla
            Satu jam telah berlalu kemudian Rifa’i izin untuk pulang ke desa. Rifa’i telah puas karena dapat mastikan keadaan Neyla yang rupanya dia baik-baik saja. Tetapi dalam hati Rifa’i masih penasaran dengan Laila yang tidak mau berbicara sama sekali kepadanya,
               Sampai rumah Rifa’i masih tetap terbayang dengan wajah Laila yang mempesona itu,bayangan itu terus menyelimuti ketika ia hendak tidur dan itu terjadi setiap malam.karena Rifa’i masih tetap penasaran dengan gadis itu ia memutuskan untuk datang kembali ke-Ma’had Syirodjud Tholibin lagi,kali ini Rifa’imemastikan  dia harus benar-benar tahu siapa sebenarnya gadis itu.
               Pagi-pagi sekali Rifa’i berangkat dari desa sebelum dia sampai ketujuan dia mampir ke toko baju untuk membelikan oleh-oleh kepada Neyla,ketika Rifa’i memilihkan baju Rifa’i tidak begitu memperhatikan ukuranya, karena yang ada pada benak Rifa’i adalah sosok Laila, rupanya baju yang dibelikan Rifa’i itu adalah ukuran baju Laila
Sampai di Ma’had Syirodjud Tholibin Rifa’i bertemulangsung dengan kyai. Abdullah,sebaga kyai yang mengasuh pondok tersebut dia tanya beberapa hal menyangkut latar belakang sang gadis cantik itu, dan kyai Abdullahpun menjawabnya dengan senang hati.dan rupanya kyai itu tahu kalau sebenarnya pemuda itu menyukai Laila,rupanya benar Rifa’i langsung menyukai dengan kepribadian Laila walaupun kyai itu tidak menceritakan bahwa sesungguhnya Laila itu adalah seorang gadis yang bisu.
Kemudian Rifa’i melanjutkan untuk menemui Neyla dan dia pun memastikan bahwa apa yang dikatakan  kyai Abdullah itu benar, ternata setelah mendengar cerita dari Neyla ada satu hal yang tidak diceritakan oleh kyai Abdullah kepadanya.dan kyai Abdullah senang ada seorang pemuda yang menyukai Laila, tapi beliau tidak tahu bahwa pemuda itu adalah calon suaminya Neyla, kyai Abdullah bermaksud hendak menjodohkan pemuda itu kepada Laila karena dilihat dari cara berbicara dan tingkahlaku pemuda itu yang sopan kepadanya, dan juga Laila yang sudah hidup bertahun-tahun di  lingkungan Ma’had beliau rasa  sudah waktunya Laila untuk hidup berumah tangga. Kemudian kyai Abdullah memanggil kedua orang tua Laila ke Ma’had,dan menceritakan apa yang telah terjadi dengan putrinya,kedua orang tua Laila pun setuju bila memang ada yang mau dengan Laila  dan beliau pun memasrahkan kepada kyai Abdullah
               Dan kyai Abdullah kembali menemui Rifa’i apakah ia benar-benar serius ingin melamar Laila dengan keadaan yang ada pada Laila ,rupanya Rifa’i setuju tanpa berpikir panjang karena ia sudah terlanjur suka dengan Laila. Kemudian kyai Abdullah  menceritakanya kepada Laila,karena Laila seorang gadis yang ta’at dan patuh kepada kyai Abdullah ia pun tidak menolaknya.terdengar kabar bahwa Laila ingin menikah semua santri yang ada di Ma’had itu ikut senang apalagi kedua sahabat setianya  yaitu ukhti Neyla dan ukhti Aisyah.Ia sangat penasaran siapa  pemuda yang beruntung mendapatkan Laila.
Setelah Laila tahu bahwa pemuda yang ingin menikahinya adalah Rifa’i, Laila merasa bahagia karena rupanya sejak awal mereka bertemu Laila juga mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang di rasakan oleh Rifa’i, kemudian Laila menceritakan kepada Neyla dengan bahasanya yang khas bahwa pemuda yang ingin menikahiya itu adalah Rifa’i, mendengar cerita dari Laila,Neyla sangat terkejut tapi melihat ekspresi muka Laila yang begitu bahagia Neyla pun tidak bisa berkata apa-apa,karena Laila merupakan salah satu santri yang  punya kelebihan dan paling disegani oleh semua santri-santri yang ada di Ma’had itu.sungguh mulia hati Neyla yang merelakan calon suaminya untuk sahabat karibnya walaupun ia sendiri masih bingung apa yang harus dikatakan kepada kedua orang tuanya di desa.   
Hari pernikahan Laila berlangsung dengan penuh kebahagiaan antara keluarga Laila dan keluarga Rifa’i, pesta pernikahan mereka dirayakan dengan sangat mewah dirumah Laila dan semua santri yang ada di Ma’had Syirodjud Tholibin diundang. kedua mempelai pun sangat bahagia dengan kedatangan mereka dan mereka hidup bahagia selamanya.
Share:

2 komentar:

Batman Begins - Link Select 3
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Blogger templates